Buku

img_20161224_120200

Ahh, sesuatu yang benar-benar menarik
Buku, buku, dan buku.
Buku berbicara tentang apa saja.
Buku menjadi catatan sebuah fakta.
Buku berhubungan dengan sejarah
Dan bahkan cara bermain musik.

Buku bisa hadir dalam berbagai bentuk dan ukuran.
Buku, buku dan buku.
Buku bisa membuat gemuk.
Buku bisa membuat tinggi.
Buku bisa membuat kurus,
Bahkan bisa membuat pendek.

Ohh, ada banyak hal yang bisa kau cari
Ketika kau melihat didalam buku-buku itu.
Ada buku-buku tentang dunia.
Ada buku-buku tentang semesta.
Ada buku-buku tentang sejarah
Dan bagaimana cara mempelajari budaya.

Kau bisa mencari cerita tentang apa saja
Didalam buku, buku dan buku.
Tentang pencarian jati diri,
Tentang keluarga dan sahabat,
Tentang kesedihan dan rasa duka,
Atau tentang cara menjadi sesuatu apapun yang tak pernah kau kira.

Terkecuali jika kau dilahirkan Maha Mengetahui,
Hidup seseorang dipelajari dari buku, buku dan buku.
Kau belajar tentang menghargai hidup.
Kau belajar tentang tanggal hitam dan merah.
Kau belajar tentang membuat hidup sehidup mungkin
Dan kau belajar tentang kisah hidup orang lain.

Seandainya kau ingin mengetahui sejarah, apa yang akan kau lakukan?
Membacanya didalam buku, buku dan buku.
Buku akan mengingatkan tentang darah dan air mata.
Buku akan mengingatkan tentang hutan yang rindang dan teduh.
Buku akan mengingatkan tentang Makhluk yang benar-benar telah punah
Dan akan mengingatkan tentang sejarah yang telah lama hilang.

Ohh ada terlalu banyak penulis
Yang menulis buku, buku dan buku.
Allan Poe, Tolstoy, Faulkner, Peter Blatty
Dekker, Lewis, Brown, Rowling, Hemingway,
Patterson, King, Gembel, Jassin, Rendra,
Anwar, Gie dan Thukul.

Ohh berapa banyak waktu yang bisa kau pakai untuk
Membaca buku, buku dan buku.
Ohh berapa banyak buku yang ada diluar sana
Untuk bisa dibaca, baca dan baca.
Sepertinya aku sudah selesai, aku harus pergi sekarang
Menuju buku-buku ku.

Catatan Kecil Penghujung Tahun

rain-1510895_960_720.jpg

 

Pada suatu malam yang dingin dengan hamparan angin yang beku. Beberapa hari lagi tahun sudah akan berganti. Resolusi-resolusi baru dibuat. Mengumpulkan kenangan-kenangan yang tercecer berantakan. Semua do’a dipanjangkan. Harapan-harapan dibungkus. Jam-jam dinding berdenting. Rolling Stones dengan album Blue Lonesome menjadi playlist terbaik saat ini.

Saya tak memiliki ingatan khusus untuk mengingat kejadian yang sudah berlalu untuk menutup tahun. Hanya membuat beberapa menjadi berkesan ketika semuanya mulai berjalan di tahun ini. Ada beberapa yang berhasil dikerjakan dan sebagian memang tak pernah selesai sesuai rencana. Penghujan di akhir-akhir Sore dan Malam menjadi pengingat untuk mencatat beberapa agenda yang tak terselesaikan untuk dilanjutkan. Di tahun yang mengajarkan saya memahami banyak hal dan mengikhlaskan beberapa masalah agar menjadi lebih baik di kemudian hari.

*

Mengingat kejadian ketika awal tahun ini di mulai, Saya masih benar-benar ingat betapa gilanya kami merayakan acara pergantian tahun dengan penuh semangat. Mengingat persiapan untuk membuat acara ini memanglah sedikit membutuhkan usaha yang melelahkan. Karena kami berniat total namun dengan biaya yang minim. Intinya memuaskan. Acaranya berjalan dengan lancar sesuai yang diharapkan hingga pesta berakhir memuaskan.

Masih kuingat betul ini adalah permulaan tahun yang baik ketika di awal sudah merasa sangat menyenangkan. Sampai ketika dimana penghujung akhir bulan Januari saya harus berurusan dengan pihak kepolisian yang terpaksa harus ditahan di balik jeruji besi. Di saat yang bersamaan padahal saya dua hari kedepan harus menjalankan Uas kuliah. Ada banyak permasalahan kala itu terjadi. Tentang masa depan kuliah, masa depan yang harus di hadapi dan beberapa pikiran negatif yang memang selalu melintas dipikiran.

Ketika didalam Jeruji Besi tersebut tidak ada banyak hal yang bisa saya lakukan selain berbicara dengan tahanan lain. Tentang kasus-kasus mereka yang lumayan menarik, dari Pencopetan dengan sistem kerja team,Merampok rumah ataupun toko hingga Penikaman dan tentang omong kosong sejenis yang lumayan menghibur kami satu sama lain. Beruntungnya di dalam kamar itu masih terdapat TV dan Dispenser yang mampu mengobati rasa bosan kami dan masih bisa meminum kopi sambil membanyol harapan konyol kami masing-masing untuk mengisi waktu-waktu yang memang sangat tidak berguna saat itu.

Selama berada didalam sana ada banyak hal yang saya pikirkan. Tentang semua daftar-daftar agenda tahunan yang harus saya lakukan, apakah saya akan berhenti kuliah jika pihak kampus mengetahui dan apa yang harus saya lakukan. Saya hampir pesimis memikirkan apa yang terjadi untuk yang akan datang. Namun banyak teman-teman yang datang untuk memberi semangat  di saat itu dan masih kuingat betul kutipan Jostein Gaarder tentang “Pesimisme itu Cuma kata lain dari kemalasan. Orang pesimistis itu pada dasarnya mudah menyerah”. dan hal ini lah yang membuat saya masih semangat untuk menjalani hari-hari dengan percaya diri dan percaya semuanya akan baik-baik saja. Tohh tidak ada salahnya jika kita bisa mengambil manfaat yang baik dari yang hal yang paling buruk.

Setelah seminggu berada disana saya keluar dari Jeruji sialan itu yang membuat saya harus meninggalkan jadwal Ujian saya. Sehingga harus meminta ujian susulan dengan banyak pertanyaan kemana saja saya kemarin. Dengan sangat terpaksa saya harus berbohong demi kepentingan pribadi kala itu, haha.

**

Setelah semuanya berlalu saya memulai kembali ke kehidupan saya seperti biasanya, kembali membaca Novel yang kadang bagus dan kadang tidak, Buku-buku sejarah dan beberapa Literatur yang memang menurut saya layak untuk dibaca sebagai refrensi baru. Selain itu mengulas beberapa album-album Hip-hop dan Rock favorit  yang baru dirilis juga bagian dari agenda keseharian saya sebagai pengganti jadwal rekreasi yang memang sudah jarang dilakukan sejak beberapa tahun terakhir.

Ada sesuatu yang menarik dalam hal mengenang waktu. Ketika saya dan kawan-kawan membuat acara Barbeque di suatu pantai yang bebas dari kerumunan para penikmat wisata. Hanya untuk sekedar berbuka bersama pada bulan puasa kemarin. Ada banyak hal yang kami lakukan, mulai dari membakar beberapa makanan untuk menu berbuka dan menyiapkan tetek bengek lainnya. Pada kenyataannya salah satu dari kami memang tidak berpuasa pada saat itu. Namun bukan berarti mereka tidak harus ikut. Selain sebagai pelengkap. Mereka jugalah sebagai semangat kami agar acara ini berjalan dengan lancar dan seru.

Hingga pada saat berbuka ketika semua kawan sibuk menyantap makanan. Karena rasa lapar dan haus memang sudah memuncak kala itu. Ada beberapa kawan yang memang menyibukkan diri selain makan seperti berfoto-foto dan memacu sepeda sepeda motor cb yang kebetulan di jalan ada track menanjak ala-ala Sirkuit Motorcross di arena perlombaan. Ada kejadian fatal disaat itu, ketika salah satu Rider Motorcross kami terjatuh setelah melakukan lompatan kecil dengan sepeda motor yang di tungganginya. Kami menertawakan sang Rider sebelum sempat menolongnya ketika sang Rider tak kunjung bangun saat terjatuh.

Kemudian kami melanjutkan beberapa hal lainnya. Selayaknya seperti yang biasa orang lakukan disaat buka bersama. Sebagian sibuk mengobati rasa duka dan luka Rider kami dan sebagian lagi menikmati duduk di atas pasir yang lembut bersama semilir angin laut yang bertiup kencang. Saling bercerita tentang apa saja.

***

Pada Desember tahun ini. Ada beberapa kebahagiaan yang berhasil saya dapatkan. Terutama ketika berhasil mendapat buku yang selama 2 tahun terakhir ini saya cari dengan militan dan selalu berakhir sia-sia. Pada akhirnnya “Laras Perlaya” kembali saya dapatkan dalam bentuk hampir sempurna. Walaupun usaha dan harga yang harus dibayar tidaklah mudah dan murah. Paling tidak salah satu harapan yang masih belum padam benar-benar menuai hasil yang memuaskan di penghujung tahun ini.

Ini beberapa malam sebelum tahun ini berakhir. Ketika hujan yang sangat manis dan deras sejak sore belum memberikan tanda – tanda akan berhenti. Saya amat menikmati kesenduan ini. Kesendirian dan kesunyian melebur menjadi satu. Membuat saya menyeruput kopi yang sudah mendingin dan rokok mulai menyalak sambil menertawakan diri sendiri. Mengingat waktu-waktu yang hilang dan mencoba mempetakannya kembali.

Dunia Tanpa Hak Cipta – Joost Smiers & Marieke Van Schijndel

Melangit Merah

Hasil gambar

Pic: Bukukita.com

Wacana perihal pembajakan dan hak cipta rasanya menjadi begitu seksi sejak saya membaca buku Budaya Bebas dari Lawrence Lessig yang brilian. Dan buku ini adalah respons dari pemikiran yang diproklamirkan oleh Lessig tersebut. Sebagai kajian kritis, Dunia Tanpa Hak Cipta ternyata tak sekadar mengungkap dan memetakan masalah terkait tatanan hak cipta dan kepemilikan, melainkan juga menawarkan jawaban. Kritik dengan solusi.

Gagasan problemanya masih tetap sama, bahwasanya eksistensi dan perkembangan hak cipta kian menjadi ancaman bagi kreativitas dan laju peradaban, terutama yang bersifat kultural. Setiap karya seni adalah adaptasi dari apa yang pernah diciptakan oleh orang lain sebelumnya dalam ruang dan waktu yang berbeda. Hak cipta berarti adalah langkah privatisasi ekspresi yang berujung pada monopoli kebudayaan dan perpanjangan jerat kapitalisme.

Hak cipta awalnya juga bukan lahir semata atas kepentingan ekonomi, melainkan juga kepntingan politik. Hak cipta muncul dari hak istimewa Ratu Mary dari Inggris yang dianugerahkan kepada Stationers’ Guild (pengusaha percetakan)…

Lihat pos aslinya 1.592 kata lagi